hotline space iklan 08586775660 ;) 24hours

Pemilu 2014

Lijit Search
Sosok Misterius
Layaknya sebuah kampung, ditepi sungai dekat gubuk kosong berdiri sebuah pohon yang besar, rindang dan runggut (lebat). Sehingga kebanyakan warga sekitar menganggapnya angker. Tak jarang orang yang lewat disana lebih dari jam sepuluh malam melihat sesosok makhluk yang sangat menakutkan. “wajahnya nggilani (menjijikkan), rambutnya gondrong” begitulah ungkap pak Gitang yang pernah diweruhi (ditakuti)
Tak jauh dari pohon yang dikatakan warga sekitar angker itu hidup seorang nenek yang bernama Sugihyem. Ia sering disebut-sebut orang yang tahu persis keberadaan pohon angker tersebut. “nanti kalau kampung ada hajatan jangan lupa sing nunggu ojo lali (yang jaga pohon jangan lupa dikasih sesaji)”. Memang sakral pohon itu, sehingga banyak warga jika akan mengadakan hajatan pasti tanya mbah Sugihyem dan minta saran sesaji apa saja yang mau dipersembahkan dipohon itu. Setelah tiga bulan terakhir ini banyak warga yang diweruhi makhluk halus disekitar pohon tersebut. Demikian saran mbah Sugihyem sambil menepuk-nepuk punggung Kaslan pemuda pengangguran dikampung itu.
“Mbah gimana kalau saya minta pertolongan sama yang jaga pohon itu?” Tanya Kaslan. “Minta tolong untuk apa?” jawab mbah Sugihyem,
”ya biar cepat dapat kerjaan” sahut Kaslan
“bisa saja, asal kamu sabar dan tanggungjawab”
“tanggungjawab gimana mbah maksudnya?”
“ya kamu juga harus jaga dan rawat, pohon itu jangan sampai ada yang jahil, kemarin pak Gitang itu diweruhi karena dia sebelumnya kencing dibawah pohon itu kok”.
Tanpa pikir panjang setelah diberi tahu oleh mbah Sugihyem, Kaslan bergegas menyiapkan alat dan perlengkapan untuk memberikan apa yang telah diresepkan oleh mbah Sugihyem. Setiap malam dia memberi santapan makan ala makhluk halus yakni sesaji.
Kaslan bukanlah pemuda kampung yang primitif. Selain berusaha dimalam hari dia juga berusaha disiang harinya. Artinya dia juga membuat lamaran kerja, ngalor-ngidul nglamar (kesana kemari cari pekerjaan). Selang dua minggu terdengar berita angin yang terhembus dari mulut kemulut yang itu sumbernya konon katanya dari kelurahan, yang isinya bahwa pohon akan ditebang dan dibersihkan dan dikasih lampu biar terang, tidak seperti sekarang yang remang-remang dan penuh dengan tumbuhan liar yang lebat.
Dengan wajah muram, dalam hati kaslam nesu-nesu (marah-marah) dan terlontar kata-kata “siapa ya yang berani mengusulkan itu...”dan kata-kata itu terdengar oleh Jamiyem dan ia langsung menyahut “kang Kaslan kenapa kok pagi-pagi sudah ngomel-ngomel sendiri, wajahmu nampak lesu lho ..minum jamu sini?” sindiran dan tawaran Jamiyem penjual jamu keliling dikampung itu.
“Yem kamu tahu nggak kalo pohon itu mau ditebang” tanya Kaslan
“boro-boro mikir ditebang, mikir dapur biar tetap ngepul ( keluar asapnya) saja susah, apalagi akhi-akhir ini sulit cari lengopet (minyak tanah), katanya konversi minyaktanah nyatanya juga nggak kelar-kelar, dah nggak mau pusing-pusing aku kang”
“Yem itu nasibku, nasibku, pekarjaanku...” keluh kesal Kaslan sambil mengelus-ngelus kepalanya.
Malam jum’at beberapa warga berkumpul dibalai kelurahan untuk bermusyawarah tentang keberadaan pohon tersebut. Nampak Kaslan hadir untuk mendengarkan dan menyampaikan aspirasinya. Dalam rapat tersebut sempat bersitegang antara Kaslan cs dengan warga lainnya. Pasalnya Kaslan beranggapan nanti kalau ditebang masyarakat kita tambah diganggu dan itu merupakan cara pihak tertentu untuk menghilangkan budaya Jawa yang nilainya luhur. Tidak menebang pohon itu adalah bentuk kita menghormati nenek-nenek moyang kita yang mewariskan budaya. Tetapi pak Rt juga ngotot agar ditebang, karena jelas-jelas mengganggu ketentraman. Akhirnya diambil jalan tengan, kedua pihak memutuskan untuk dibersihkan saja , tanpa ditebang.
Minggu pagi puluhan orang mulai terlihat mengerumuni disekitar pohon itu tak terkecuali Kaslan, dengan segala peralatan gergaji, linggis, pacul. Tepat jam tujuh dimulailah kerjabakti itu. Pohon raksasa yang batangnya menjulang tinggi kelangit, akarnya menghujam dalam kebumi, dahannya runggut kini akhirnya dapat dibersihkan dalam kurun waktu dua jam dengan tenaga sekitar dua puluh orang.
“Gimana pak Kaslan, apakah masih kerja dipabrik?” tanya pak Haji Mustafa, sesepuh desa sekaligus tim sukses salah satu kandidat Capres
“wah sudah di PHK lima bulan yang lalu pak, apakah ada pekerjaan untuk saya pak” jawab dan tanya pak Kaslan tanpa sungkan-sungkan. Spontan pah Haji Mustafa mendekatinya sambil membisikkan beberapa kalimat ketelingan agar tidak terdengar kebanyakan orang. Spontan juga Kaslan meng-iya-kan
Dengan wajah yang ceria pak Kaslan mulai Senin sudah bekerja, walaupun pekerjaannya kasar, tapi tetap dilakoni karena tuntutan ekonomi, karena juga pak Kaslan sudah hampir setengah tahun nganggur. Dengan peralaatan yang diperlukan yakni palu, pukul, paku, linggis, dan tangga Kaslan berjalan setapak demi setapak menuju pohon sakral yang kemarin baru saja di renovasi. Dengan niat, semangat, dan mental yang kuat demi rupiah dipasanglah sebuah gambar sosok wajah Calon dan wakil Presiden dengan background yang mencolok, dan ukuranya pun cukup besar yaitu 3X4 meter, sehingga nampak jelas sampai arasius puluhan meter,.
Kini pohon yang dulu runggut lagi angker yang kadang muncul penampakan sesosok wajah yang mengerikan itu sekarang menjadi besih, terang, dan terlihat wajah yang murah senyun lagi memikat hati setiap orang yang lewat.
Tetapi berbeda yang dirasakan oleh pak Gitang. Dia kaget ketika melewatinya, baginya sesosok wajah itu lebih menakutkan dari pada yang dilihat sebelumnya.
“lihat saja mbah Sugihyem itu, yang dulunya sugih tentrem (kaya dan tentram) sekarang jadi mlarat (miskin) gara-gara pemimpin-pemimpin yang nggak nepati janjinya” ungkap pak Gitang, sinis terhadap yang masang gambar itu.
“liat juga itu mbok Jamiyem, yang dulunya juragan minyak yang ayem (pengusaha minyak yang tenang hidupnya) sekarang turun pamor jadi bakul jamu adem ayem keliling kampung”
“Saya juga begitu, saya dipanggil pak Gitang itu karena saya pekerja yang gigih dan tangguh, tapi sekarang malah sugih utang (banyak hutang)
“Ya saya cuma bisa berdoa saja, siapa saja yang gambar-gambarnya dipasang dipinggir-pingir jalan, sudut-sudut keramaian, ditaman-taman kota, tak terkecuali yang dipasang di pohon yang angker itu. Mudah-mudahan tidak hanya mememberi janji-janji yang menggiurkan. Entah itu kontrak politik, kontrak rumah, kawin kontrak, semua itu memang enak. Tapi kalau sudah jadi, jangan-jangan nanti duduk dikursi empuk sambil main yoyo....”
Semoga pemimpin-pemimpin yang terpilih besok sadar akan penderitaan rakyat, dan mau melanjutkan perjuangan demi kesejahteraan rakyatnya. Paling tidak pro rakyat dengan memperhatikan pemberdayaan-pemberdayaan kaum proletar (kaum lemah), dan semoga situasi dan kondisi negeri ini disegala bidang berubah dengan cepat menjadi negeri yang lebih baik. Karena lebih cepat itu lebih baik Amin .

0 komentar:

 

© 3 Columns Newspaper Copyright by anwar's blog | Template by Muchammad Anwarrudin | Blog Trick at ojo di copy

Read more: http://dapur-tutorial.blogspot.com/2012/03/cara-membuat-atau-memasang-widget.html#ixzz27PfgsErz